Tuesday, October 20, 2009 @ 9:16 PM
Nggak Nasib
Hari ini, sepertinya gue dan Priscil sedang tidak ditakdirkan buat naik metromini 611. Bayangin aja, pas kita baru nyampe depan gerbang sekolah, ada dua metro 611 sedang berhenti. Langsung kami berdua lari-lari sambil berteriak mesra, "611! Tunggu!". Tapi kedua 611 (yang ternyata KOSONG) itu pergi. Tinggallah kami berdua termangu-mangu di seberang jalan.
Memang kami nggak biasa naik 611. Biasanya, kami jalan sampai Barito buat nyari metro 72. Tapiii karena hari itu luar biasa HOT, jadilah kami berencana untuk mengambil metro 611 yang memang lewat di depan sekolah.
Oke, meskipun sudah dua metro mini yang terlewatkan, kami tidak menyerah begitu saja. Akhirnya kami memutuskan jalan sampai depan jalan Lamandau sambil mencari 611. Tak lama kemudian, muncullah 611 dari arah Blok M Plaza. Nah dengan penuh semangat kami loncat-loncat manggil 611. Lalu suatu hal yang tidak terduga terjadi.
Karena sang supir metro melihat kita yang begitu bersemangat memanggil metronya, muncullah hasrat sebagai sopir di hatinya. Dia segera memacu metronya dengan cepat, sampai tidak menyadari ada mobil datang dari samping. Dan sudah bisa kita tebak sodara-sodara, mobil mereka berciuman alias nyerempet! Bemper si mobil sampai lepas dan bodinya metro baret-baret. Gue sama Priscil langsung liat-liatan. Priscil nanya, "Ini bukan gara-gara kita kan?" trus gue jawab dengan sotoynya, "Ah bukan Cil."
Kayaknya kami lagi nggak nasib naik 611, udah tiga kali gagal naik dan yang terakhirnya kayak gitu lagi. Jangan-jangan itu pertanda. Hii syerem.
Akhirnya kami naik 72 dan sampai rumah dengan selamat.
Oh ya akhirnya gue beli soft lens! Haha senang riang hari yang kunantikan! Meskipun pas pertama kali nyoba bercucuran air mata, tapi nggak apa-apalah.
Ah senang juga bisa sekali-kali lepas dari kacamata. Kalau yang ini berarti gue masih nasib, hihi.
Memang kami nggak biasa naik 611. Biasanya, kami jalan sampai Barito buat nyari metro 72. Tapiii karena hari itu luar biasa HOT, jadilah kami berencana untuk mengambil metro 611 yang memang lewat di depan sekolah.
Oke, meskipun sudah dua metro mini yang terlewatkan, kami tidak menyerah begitu saja. Akhirnya kami memutuskan jalan sampai depan jalan Lamandau sambil mencari 611. Tak lama kemudian, muncullah 611 dari arah Blok M Plaza. Nah dengan penuh semangat kami loncat-loncat manggil 611. Lalu suatu hal yang tidak terduga terjadi.
Karena sang supir metro melihat kita yang begitu bersemangat memanggil metronya, muncullah hasrat sebagai sopir di hatinya. Dia segera memacu metronya dengan cepat, sampai tidak menyadari ada mobil datang dari samping. Dan sudah bisa kita tebak sodara-sodara, mobil mereka berciuman alias nyerempet! Bemper si mobil sampai lepas dan bodinya metro baret-baret. Gue sama Priscil langsung liat-liatan. Priscil nanya, "Ini bukan gara-gara kita kan?" trus gue jawab dengan sotoynya, "Ah bukan Cil."
Kayaknya kami lagi nggak nasib naik 611, udah tiga kali gagal naik dan yang terakhirnya kayak gitu lagi. Jangan-jangan itu pertanda. Hii syerem.
Akhirnya kami naik 72 dan sampai rumah dengan selamat.
Oh ya akhirnya gue beli soft lens! Haha senang riang hari yang kunantikan! Meskipun pas pertama kali nyoba bercucuran air mata, tapi nggak apa-apalah.
Ah senang juga bisa sekali-kali lepas dari kacamata. Kalau yang ini berarti gue masih nasib, hihi.
Labels: unexpected










