stressed out with evita
relax time
WELCOME!
Before you start,
let me tell you what's going here
Go to Profile and get to know me.
See Entries then enjoy my writings.
Another sites of mine, find Linkage.
Click Others to read all old entries.
Enjoy :)

Best viewed with Chrome/Firefox.

Tuesday, June 23, 2009 @ 9:14 PM
Penuh!
Banyak banget kejadian akhir-akhir ini yang sebenernya menarik buat diceritain, tapi berhubung gue males (ahay) buka-buka blog, akhirnya semua kejadian itu ngumpul di otak gue penuh membludak, dan muncrat-muncrat nggak karuan. Hayo, tahu tidak maksudnyah? Maksudnya kejadian-kejadian yang masih gue ingat bakal gue ceritain dengan alur yang amburadul di post ini.

Ehem, jadi begini. Gue baru aja selesai les piano, dan guru gue bilang kalau minat gue di bidang perpianoan (halah) nggak sebesar minat adek gue. Dengan kata lain, adek gue jauh lebih sering latihan. Itu emang bener sih. Emang gue jarang latihan,
but I do like piano! Jangan salah! Oke, yang itu gue bisa maklumin deh. Trus entah bagaimana caranya tiba-tiba pembicaraan itu--yang sebenarnya terjadi antara nyokap, guru piano, dan gue--merepet ke soal nyanyi menyanyi. Nah, guru piano gue bilang, wajar aja kalau gue nggak begitu minat ke piano, soalnya gue udah lebih lama konsen sama nyanyi. Sedangkan adek gue kan nggak nyanyi. Gue sependapat, soalnya gue emang sengaja belajar piano supaya gue bisa mengiringi diri sendiri saat lagi nyanyi. Tapi nyokap gue bilang, "Jangan salah lo, Bu. Adeknya si Evi suaranya lebih bagus. Cuma emang nggak pernah dilatih aja." Oh, damn! Dalem banget ya! Bahkan dalam bidang yang gue udah tekunin lama juga gue gak dianggap lebih bagus dari adek gue. Apaan sih! Emang, soal suara bagus atau nggak itu kan masalah selera, tapi ya nggak usah diomongin di depan muka gue juga dong! SEBEL. Kadang-kadang nyokap gue nih ngomong nggak tepat tempat dan waktunya. Oh ya, dan tolong ya buat semua orang tua yang punya anak lebih dari satu, jangan pernah membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya, apalagi di depan muka anak itu sendiri. Meskipun anaknya udah gede kayak gue. Memang gue bisa memaklumi dan let it go, tapi tetep aja kan. It really hurts.

Hmm, yang lainnya. Hari ini gue baru buka-bukain
profile facebook temen-temen lama gue dan ngeliatin foto-fotonya. Temen lama disini maksudnya temen yang dulu deket sama gue dan sekarang udah jarang banget ketemu. Entah kenapa, gue merasa jauh banget. Kayaknya gue dan mereka sudah hidup di dunia yang berbeda (aduh bahasanya). Dan gue yang dulu merasa mereka itu biasa-biasa aja, sekarang jadi agak beda. Ternyata, memang yang mendekatkan kita pada seseorang itu bukan cocok atau tidaknya, tapi intensitas bertemunya.

Lagi. Gue baru aja selesai melaksanakan suatu acara dalam sebuah kepanitiaan. Dan dalam acara tersebut gue bener-bener sakit hati dan merasa gak dihargai. Sekarang sih udah biasa aja. Tapi yang gue pengen tegaskan disini adalah, pas gue omongin hal ini saat evaluasi, seorang teman berkata, "Kalau gue dalam posisi lo, gue nggak akan sakit hati Vi." Hey,
think first before you speak! Lo nggak bisa ngomong kayak gitu karena lo nggak pernah berada dalam posisi gue! Buat yang baca post ini, tolong dipikirkan dulu sebelum bilang, "Kalau gue jadi elo... , gue nggak akan..." ke seseorang. Lo nggak akan bisa memastikan apa yang akan lo perbuat kalau lo ada di posisi yang sama dengan orang itu. Mungkin lo bisa ngomong gitu sekarang, tapi kalau suatu saat lo yang mengalami? Who knows? Jangan sampai menjilat ludah sendiri deh.

My Sister. Dia tuh oon ya. Setiap kali gue buka komputer malem-malem dia selalu bilang, "Kak, jangan matiin komputernya ya, aku mau buka facebook.". Eh, pas gue selesai dia malah udah ngorok. Ngamuk lagi kalau gue bangunin. Dan dia melakukan hal ini berulang kali. Gue sampe bosen.

Star Trek. Keren. Banget.

Udah habis. Udah tumpah semua nih. Ahay! ^^

Labels: